Jombang, Briannova.or.id – dr. Fakhri Surahmad, M.Kes., Sp.U salah satu dokter spesialis urologi RSUD Jombang mengingatkan kepada masyarakat luas khususnya masyarakat Kabupaten Jombang agar tidak menganggap remeh tentang penyakit batu saluran kemih.
Penyakit batu saluran kemih masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat, terutama karena sering muncul tiba-tiba dengan gejala yang menyakitkan.
Batu saluran kemih terbentul dari endapan mineral dan garam dalam urine yang kemudian mengeras menjadi kristal lalu menyumbat serta menimbulkan gelaja.
Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis urologi RSUD Jombang dr. Fakhri Surahmad, M.Kes., Sp.U. ketika dialog kesehatan yang digelar di Ruang Bung Hatta RSUD Jombang pada Sabtu (23/08/25)
Menurutnya, Batu dapat menyumbat di sepanjang saluran kemih mulai dari ginjal, ureter, kandung kemih, maupun di urethra. Batu ginjal sering tidak menimbulkan gejala di awal, nun ketika batu sudah membesar kemudian berheser lalu menyumbat, maka akan muncul gejala, antara lain rasa sakit hebat di pinggang, mual, muntah, demam, hingga kesulitan buang air kecil.
Dijelaskan oleh dr. Fakhri, faktor risiko penyebab batu ginjal, antara lain dikarenakan gaya hidup menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus batu ginjal seperti kurang minum air putih membuat urine menjadi pekat sehingga memicu terbentulnya endapan.
Selain itu, konsumsi makanan tinggi garam, protein hewani, dan minuman dengan zat aditif juga memperbesar risiko. Tak hanya itu, adanya faktor genetik/keturunan, obesitas hingga penyakit metabolik lainnya.
Untuk penanganan terkini batu saluran kemih tanpa pembedahan, mengikuti perkembangan zaman saat ini ada metode penanganan batu saluran kemih tanpa sayatan/pembedahan terbuka. Sehingga nyeri paskah tindakan minimal, waktu perawatan akan lebih cepat, kemudian pasien bisa segera beraktivitas seperti sebelumnya.
Batu berukuran kurang dari diameter saluran kemih (sekitar 0,5 cm) jika tidak ada penyempitan dibawahnya serta keluhan tidak terlalu berat diharapkan dapat keluar sendiri dengan pemberian obat yang melemaskan saluran kemih serta penambahan aktivitas fisik seperti jalan cepat atau meloncat-loncat.
Sedangkan untuk batu berukuran lebih dari 0,5 cm atau gagal pengobatan maka untuk tindakannya dilakukan dengan cara memasukkan alat endoskopi Ureterorenoscope (URS) berukuran kecil (<0,5 cm) melewati saluran kemih kemudian penyebab sumbatan tersebut dilebarkan atau dipecahkan menggunakan alat khusus pemecah batu, salah satunya yang sudah dimiliki RSUD Jombang adalah menggunakan leser holmium.
Untuk Batu berukuran kurang dari 2 cm dapat dilakukan tindakan minimal invasif berupa Electro Shock Wave Lithotripsy (ESWL) maupun menggunaoan alat flexible URS yaitu Retrograde Intra Renal Surgery (RIRS). ESWL dilakukan secara poliklinis/rawat jalan sedangkan RIRS rawat inap karena memerlukan pembiusan total.
Jika batu ginjal dengan ukuran lebih dari 2 cm dilakukan tindakan Percutaneous Nefrolitholapaxy (PCNL) dengan membuat sayatan kecil sekitar 1 cm pada pinggang kemudian saluran tersebyr dilebarkan kemudian dimasukkan alat endoskopi lalu batunya dipecahkan dan dikeluarkan dari ginjal.
“Ketika batu merupakan batu cetak ginjal atau ukurannya besar sekali maka alternatif penanganannya adalah operasi terbuka,” pungkas dr. Fakhri. (vir)



















