Jombang, Briannova.or.id – Suasana MTsN 10 Jombang terasa berbeda selama dua hari terakhir. Jika pada Rabu (14/1/2026) halaman madrasah dipenuhi sorak sorai dan ketegangan adu cepat berpikir para siswa, keesokan harinya suasana berubah menjadi khidmat dengan lantunan sholawat yang menggema dari mushola.
Momentum peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026 di MTsN 10 Jombang tidak sekadar diisi dengan kegiatan seremonial. Madrasah ini memilih merangkai peringatan dengan dua sisi yang saling melengkapi: kompetisi akademik dan penguatan spiritual.
Hari pertama diawali dengan Lomba Cerdas Cermat Madrasah (LCCM) yang melibatkan 21 tim terbaik dari berbagai kelas. Setiap tim beranggotakan tiga siswa, mewakili kelasnya masing-masing. Adu cepat, ketepatan, dan strategi menjadi kunci untuk bertahan hingga babak demi babak.
Ketegangan terasa sejak penyisihan yang menyaring 13 tim menuju semifinal. Persaingan semakin memanas ketika hanya empat tim tersisa di babak final. Setelah melalui pertarungan intelektual yang sengit, Kelas 9C keluar sebagai Juara 1, disusul Kelas 9A di posisi kedua. Kelas 8C meraih Juara 3, sementara Kelas 8E dinobatkan sebagai Juara Harapan 1.

Ketua Panitia Pelaksana, Abdul Hamid, M.Pd., menyebut lomba ini dirancang untuk menguji penguasaan siswa terhadap seluruh mata pelajaran madrasah. “Kami ingin anak-anak terbiasa berpikir cepat, tepat, dan percaya diri,” ujarnya.
Namun, gemerlap kompetisi akademik itu hanyalah separuh dari makna peringatan Isra Mi’raj di MTsN 10 Jombang.
Memasuki hari kedua, Kamis (15/1/2026), suasana madrasah berubah drastis. Sorak kemenangan digantikan ketenangan. Di Mushola MTsN 10 Jombang, seluruh siswa, guru, dan staf berkumpul, melantunkan sholawat Nabi Muhammad SAW dengan penuh kekhusyukan.
Kepala MTsN 10 Jombang, Dra. Sugiati, M.Pd., menegaskan bahwa rangkaian kegiatan ini sengaja dirancang untuk menyeimbangkan kecerdasan dan kepekaan spiritual siswa.
“Kami meyakini pendidikan yang utuh adalah keseimbangan antara pikir dan zikir,” ungkapnya. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlak dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Melalui lomba, kami asah otaknya. Melalui sholawat dan peringatan Isra Mi’raj, kami sentuh hatinya. Harapannya, anak-anak tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia,” tambah Sugiati.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi penutup yang bermakna. Dari ketegangan lomba hingga kekhusyukan sholawat, MTsN 10 Jombang menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal prestasi, tetapi juga tentang membentuk karakter dan jiwa yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Pungkasnya (vir)



















