Pare, Briannova.or.id – Organisasi Masyarakat Barisan Jaga Indonesia Raya (BAJA) mulai menapaki langkah awalnya dengan membangun kedekatan bersama para sesepuh dan budayawan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya BAJA mengenalkan kembali sejarah, budaya, serta nilai kebangsaan kepada generasi muda.
Ketua Umum BAJA Wawan Sanjaya, S.Ikom,. SH., MH. menjelaskan, kegiatan yang dilakukan saat ini tidak hanya sebatas silaturahmi. BAJA ingin terlebih dahulu memahami sejarah dan akar budaya Nusantara sebelum menjalankan berbagai program organisasi.
Menurutnya, keberadaan para sesepuh dan budayawan menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi. Sebab, setiap program yang akan dijalankan diharapkan memiliki dasar sejarah dan kebudayaan yang kuat serta dapat diteruskan hingga generasi berikutnya.
“Sebelum kita memulai program harus sowan atau silaturahmi dulu. Karena kita wajib tahu sejarahnya dan bagaimana perjalanan budaya kita. Kami tidak ingin hanya membentuk program, tetapi tidak ada kelanjutannya. Kami ingin program ini bisa terus sampai anak cucu di masa datang,” ujarnya.
BAJA sendiri lahir dari keresahan terhadap kondisi nasionalisme dan jiwa kebangsaan yang dinilai mulai mengalami penurunan, khususnya di kalangan generasi muda.
Karena itu, organisasi tersebut ingin mendorong generasi muda kembali mengenal sejarah Nusantara sekaligus memahami keberagaman budaya yang menjadi bagian dari identitas Indonesia.
“Fokus kami bukan hanya politik. Memang kami harus mengawal, tetapi yang jelas bagaimana anak-anak muda kembali mengetahui pentingnya budaya dan sejarah Nusantara,” katanya.
Selain bergerak di bidang kebudayaan, BAJA juga membawa misi menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.
Wawan juga mengatakan, pihaknya ingin membantu memastikan berbagai program pemerintah dapat benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah pelosok.
BAJA juga ingin menjadi ruang komunikasi ketika masyarakat mengalami kesulitan memperoleh informasi maupun akses terhadap program pemerintah.
Menurutnya, berbagai program pemerintah pada dasarnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, persoalan sosialisasi dan pelaksanaan di lapangan terkadang membuat program tersebut belum sepenuhnya diketahui atau dirasakan masyarakat. Karena itu, BAJA menyatakan siap menjalankan peran tersebut tanpa bergantung pada siapa pun yang memimpin pemerintahan.
“Siapa pun presidennya, BAJA pasti akan hadir sebagai jembatannya,” tegasnya.
Konsep keberagaman juga menjadi salah satu identitas utama BAJA. Organisasi ini tidak hanya menghimpun masyarakat dari berbagai agama, tetapi juga membuka ruang bagi perbedaan keyakinan, suku, dan ras.
BAJA tidak ingin membawa identitas satu agama tertentu dalam menjalankan programnya. Sebaliknya, para anggotanya diharapkan dapat memahami keberagaman yang ada di Indonesia.
“Kami ingin mempersatukan agama. Kami tidak ingin membawa nama agama dalam program yang akan dijalankan. Anggota BAJA merupakan perwakilan dari berbagai agama, tetapi bukan hanya agama, melainkan juga keyakinan, suku dan ras,” ungkapnya.
Pemahaman terhadap keberagaman tersebut diharapkan dapat memperkuat toleransi. BAJA juga berencana mendorong sosialisasi mengenai pentingnya toleransi antaragama di berbagai daerah.
BAJA terbentuk pada 2026 dan secara resmi baru berjalan sekitar tiga bulan. Meski masih tergolong organisasi baru, struktur BAJA disebut telah terbentuk di 12 provinsi.
Untuk tahap awal, kegiatan BAJA pada 2026 masih difokuskan di Jawa Tengah. Termasuk sejumlah agenda besar yang nantinya akan terlebih dahulu digelar di wilayah tersebut.
Sementara itu, agenda sosialisasi organisasi secara lebih luas direncanakan mulai berjalan pada awal 2027. Saat ini, BAJA lebih dahulu menjalankan program BAJA Sowan, yakni kegiatan silaturahmi dengan para sesepuh, budayawan, serta tokoh yang memahami adat istiadat dan sejarah daerah. Langkah tersebut menjadi bagian dari proses awal sebelum BAJA masuk pada program-program yang lebih luas.
Dalam perkembangannya, BAJA memiliki tiga wadah dengan fungsi berbeda. Pertama, BAJA Indonesia Raya yang menjadi wadah organisasi kemasyarakatan.
Kedua, BAJA Raya Nusantara yang berbentuk yayasan dan diarahkan untuk menjalankan berbagai program sosial.
Ketiga, BAJA Nusantara yang menjadi wadah bagi para budayawan sekaligus ruang untuk mengembangkan perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan.
Untuk tahun depan, BAJA berencana memberikan perhatian lebih besar terhadap bidang pendidikan dan UMKM. Program tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya organisasi dalam memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Dengan fondasi yang diawali dari silaturahmi kepada para sesepuh dan budayawan, BAJA ingin membangun organisasi yang tidak hanya bergerak dalam program jangka pendek, tetapi memiliki kesinambungan hingga generasi mendatang. Pungkasnya (vir)



















